Zaid bin Tsabit

Filled under:

“Penghimpun Al-Qur’an”
Jika Anda membawa Al-Qur’an dengan tangan kanan, lalu menelusurinya dengan teliti – surah demi surah, ayat demi ayat – maka ketahuilah bahwa orang yang telah berjasa besar dan patut Anda beri ucapan terimakasih atas karya besar ini adalah seorang tokoh besar bernama Zaid bin Tsabit.
               Peristiwa-peristiwa pengumpulan Al-Qur’an sampai menjadi satu mushaf (buku), tidak terpisahkan dari nama besar ini.
                Seandainya diadakan tabor bunga untuk mengenang mereka yang berjasa dalam penghimpunan dan pengurutan Al-Qur’an, maka Zaid bin Tsabit akan mendapat jatah bunga terbanyak.


Ia termasuk kaum Anshar. Sewaktu Rasulullah saw. menginjakkan kaki di Madinah, usianya baru 11 tahun. Anak kecil ini masuk Islam bersama keluarganya dan pernah didoakan oleh Rasulullah. Satu keutamaan tersendiri.
Ia dibawa oleh orang tuanya berangkat ke Perang Badar, namun Rasulullah dengan mengiba agar beliau mengizinkan mereka ikut perang. Bahkan, keluarga mereka juga turut mengiba kepada Rasulullah agar mereka diperkenankan ikut perang.
Rasul melayangkan pandangannya ke para penunggang kuda ini. Ada rasa bangga tersirat di wajah beliau. Namun tampaknya, kali ini beliau juga tidak akan mengizinkan mereka bergabung dalam pasukan perang.
Akan tetapi, Rafi’ bin Khadij, satu dari mereka, tampil ke hadapan Nabi dengan membawa tombak. Ia memainkan tombaknya dengan sengat lihai. Setelah itu, ia berkata kepada Rasulullah, “Seperti yang Rasul lihat, aku jago melempar tombak. Karena itu, izinkan aku ikut perang.”
Rasulullah tersenyum puas kepada jagoan muda ini. Beliau mengizinkannya ikut perang.
Semangat rekan-rekannya pun bangkit. Sekarang giliran Samurah bin Jundub tampil ke depan. Dengan penuh sopan ia memperlihatkan kedua lengannya yang kuat dan kekar. Keluarganya berkata, “Ya Rasul, Samurah mampu mengalahkan Rafi’ dalam adu gulat.”
Rasulullah tersenyum puas, lalu memberinya izin berperang.
Rafi’ dan Samurah saat itusudah berusia 15 tahun. Di samping itu, tubuh keduanya juga besar.
Masih tersisa 6 anak lagi, termasuk Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar. Segala upaya mereka lakukan agar diikutsertakan dalam Perang Uhud. Terkadang dengan berharap dan mengiba, dan terkadang dengan menunjukkan kepandaian mereka. Namun, usia dan tubuh mereka masih terlalu kecil. Rasulullah berjanji untuk mengikutkan mereka di perang selanjutnya.
Demikianlah, Zaid bin Tsabit dan rekan-rekannya mulai ikut bertempur di perang Khandaq, tahun 5 H.
Keimanan Zaid tumbuh dengan cepat dan menakjubkan. Dia tidak hanya menonjol di medan perang, tetapi juga sebagai ilmuwan dengan berbagai keistimewaan. Ia hafal Al-Qur’an. Ia menulis wahyu yang turun kepada Nabi. Ia unggul di bidang ilmu dan hikmah. Tatkala, Rasulullah mulai melakukan ekspansi dakwah ke luar Madinah dan mengirim surat ajakan masuk Islam kepada para raja, beliau menyuruh Zaid belajar bahasa mereka. Dan hanya dalam waktu yang singkat, Zaid sudah bisa menguasai bahasa mereka.
Sosok Zaid bin Tsabit terus bersinar. Dihormati dan dimuliakan.
Sa’bi berkata, “Pada suatu hari, Zaid hendak pergi berkendaraan, maka Ibnu Abbas memegangkan talikendali kudanya. Zaid berkata, “Tidak usah, wahai sepupu Rasulullah.” Ibnu Abbas menjawab, “Seperti inilah yang kami lakukan terhadap ulama kami.””
Qabishah berkata, “Di Madinah, Zaid menjadi ketua dewan peradilan, ketua dewan fatwa, ketua tim pembaca Al-Qur’an, dan ketua tim pembagi harta warisan.”
Tsabit bin Ubaid berkata, “Aku belum pernah mengenal orang seperti Zaid. Di rumahnya, ia suka bercanda dan di majelis taklimnya ia sangat dihormati.”
Ibnu Abbas berkata, “Para sahabat terkemuka sudah mengetahui kalau keilmuan Zaid bin Tsabit sangat menonjol.”
Puji-pujian di atas semakin menambah deretan panjang keistimewaan yang dimiliki Zaid, karena sebelum itu semua, ia menyimpan kemuliaan tersendiri. Ia mengemban tugas paling penting dan paling mulia dalam sejarah Islam, yaitu menghimpun Al-Qur’an.


Sejak wahyu mulai turun kepada Rasulullah, sebagai tanda pengangkatan beliau sebagai pemberi peringatan, yang dimulai dengan ayat-ayat mempesona ini, yaitu Q.S. Al-Alaq ayat 1-5.
Lalu wahyu terus menyertai Rasulullah setiap kali beliau memohon petunjuk dan bimbingan.
Selama masa kerasulan itu, Rasulullah menghadapi peperangan demi peperangan; menghalau setiap tipu daya musuh; dalam proses membangun masyarakat baru dengan penuh kesungguhan. Selama itu, wahyu terus turun, dan Rasulullah membacakan kepada para pengikutnya. Di sinilah ada sekelompok orang mulia yang mencurahkan perhatiannya kepada Al-Qur’an sejak hari pertama. Ada yang menghafalnya dan ada yang menulisnya untuk memelihara Al-Qur’an.
Selama kurang lebih 21 tahun, Al-Qur’an turun ayat demi ayat sesuai kebutuhan dan situasi yang dihadapi. Para penghafal dan penulis Al-Qur’an itu mencurahkan segenap perhatiannya.
Al-Qur’an tidak turun sekaligus, karena Al-Qur’an bukan buku atau artikel. Akan tetapi, Al-Qur’an adalah pedoman bagi umat baru yang dibangun secara alami ---- sejengkal demi sejengkal ---- dari waktu ke waktu. Membangun akidah, membersihkan hati, mengembangkan pola fikir, dan menguatkan tekad sesuai kehendak Allah. Mereka menerima kehendak ini sepenuh hati tanpa mencari-cari alasan.
Karena itulah, Al-Qur’an turun secara berkala dan sebagian-sebagian untuk mengikuti perjalanan hidup, situasi yang berubah-ubah, dan permasalahan yang ada.
Sebagaimana yang telah kami sebutkan, jumlah mereka yang menghafal dan menulis Al-Qur’an cukup banyak. Di antara yang terkemuka adalah Ali bin Abu Thalib, Ubai bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, dan seorang tokoh mulia yang sedang kita bicarakan sekarang, yaitu Zaid bin Tsabit ---- semoga Allah ridha kepada mereka semua.


Sesudah Al-Qur’an turun dengan sempurna, di masa-masa terakhir, Rasulullah membacakannya kepada kaum muslimin secara tersusun surat demi surat, ayat demi ayat.
Setelah Rasulullah wafat, kaum muslimin disibukkan dengan Perang Riddah.
Di Perang Yamamah, seperti yang sudah kita bicarakan saat berkisah tentang Khalid bin Walid dan Zaid bin Khattab, banyak penghafal Al-Qur’an yang gugur sebagai syahid. Oleh sebab itu, Umar segera menghadap Khalifah Abu Bakar mengusulkan penghimpunan Al-Qur’an sebelum semua penghafal Al-Qur’an gugur dalam peperangan.
Khalifah meminta bimbingan Allah. Juga meminta pendapat para tokoh kaum muslimin. Kemudian, ia memanggil Zaid bin Tsabit dan berkata kepadanya, “Kamu masih muda dan cerdas. Kami tidak berburuk sangka kepadamu.” Lalu, Zaid diperintahkan untuk menghimpun Al-Qur’an dengan meminta bantuan para penghafal lainnya.
Zaid mulai melakukan tugas yang menentukan masa depan Islam. Segala upaya dan pengorbanan ia curahkan untuk menyelesaikan tugas paling agung dan berat ini. Ia himpun ayat demi ayat, surah demi surah, dari para penghafal Al-Qur’an dan dari lembaran-lembaran yang ada dengan sangat teliti hingga Al-Qur’an terhimpun semuanya dan tersusun rapi.
Hasil kerjanya mendapat persetujuan dari para sahabat yang telah mendengarkan Al-Qur’an langsung dari Nabi semasa hidupnya, terutama para penghafal dan penulis Al-Qur’an.
Zaid pernah melukiskan kesulitan menjalankan tugas mulia dan agung ini, “Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, itu lebih mudah bagiku daripada menghimpun Al-Qur’an.”
Ia bisa bertahan meski harus mnghadapi ujian, seberat apapun. Namun, ia tidak akan bisa bertahan ketika melakukan kesalahan sekecil apa pun dalam melaksanakan tugas suci ini ---- meski tanpa disengaja.
Ia selalu didampingi bimbingan Allah dan jaminan yang dijanjikan-Nya, “Sesungguhnya, Kami yang menurunkan peringatan (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami akan memliharanya.” (al-Hijr :9)
Maka, Zaid dapat melaksanakan tugas penting ini dengan sebaik-baiknya.


Inilah tahapan pertama pnghimpunan Al-Qur’an. Al-Qur’an  tersalin dalam beberapa mushaf. Antara mushaf yang satu dengan mushaf yang lain ada sedikit perbedaan, meskipun tidak esensial. Seiring perjalanan waktu, peristiwa yang terjadi di lapangan mengharuskan para sahabat menjadikan Al-Qur’an hanya satu mushaf.
Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman, kaum muslimin terus melanjutkan ekspansi dakwahnya, sehingga mereka semakin jauh dari kota Madinah. Di samping itu, gelombang manusia yang masuk Islam ---- yang memiliki perbedaan bahasa dan dialek ---- juga semakin banyak. Saat itulah perbedaan mushaf menimbulkan perbedaan car abaca terhadap Al-Qur’an, bahkan terjadi perbedaan cara baca antara para sahabat generasi tua dengan kalangan muda. Karena itulah, sejumlah sahabat (yang dipimpin Hudzaifah bin Yaman) menghadapi Khalifah Utsman mengusulkan pentingnya penyatuan Al-Qur’an.
Khalifah meminta petunjuk kepada Allah dan meminta pendapat para sahabat yang lain. Sebagaimana Khalifah Abu Bakar dulu menugaskan Zaid bin Tsabit, sekarang, Khalifah Utsman juga menugaskan Zaid.
Zaid mengumpulkan rekan-rekannya. Mereka mengambil beberapa mushaf yang selama ini sengaja disimpan di rumah Hafshah binti Umar. Bersama rekan-rekannya, Zaid memulai tugas berat dan mulia ini. Mereka yang bersama Zaid melaksanakan tugas ini adalah para penulis dan penghafal Al-Qur’an.
Hampir tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka. Kalaulah ada, mereka menjadikan pendapat Zaid sebagai pedoman.


Sekarang, saat kita membaca Al-Qur’an dengan mudah, atau sedang mendengarkan Al-Qur’an dibacakan dengan benar, kita sama sekali tidak berpikir bahwa ada kesulitan besar yang dihadapi oleh para penghimpun Al-Qur’an di masa lalu.
Sungguh, kesulitan yang mereka hadapi sama persis dengan kesulitan di medan perang untuk menegakkan kalimat Allah dan menghancurkan kegelapan dengan cahaya ilahi.

Posted By Didit Puji Hariyanto06.46

Thufail Bin Amru Ad-Dausi

Filled under:

"Fitrah yang Lurus"
Di daerah Daus, ia menjalani masa remaja dalam keluarga yang mulia dan terhormat. Ia dikaruniai bakat sebagai penyair hingga nama dan kemahirannya termasyur di kalangan suku-suku.
            Di pekan raya Ukadh, di mana semua orang dari segala penjuru berdatangan  membanggakan penyair masing-masing, Thufail berada di barisan terdepan.
            Di luar musim pekan raya Ukadh, ia juga sering mengunjungi Mekah.
            Pada suatu ketika, saat ia berkunjung ke kota suci itu, Rasulullah sudah mulai berdakwah secara terang-terangan. Orang-orang Quraisy takut kalau Thufail menemuinya dan masuk Islam, lalu menggunakan bakatnya sebagai penyair untuk membela islam. Jika itu terjadi, berarti bencana besar bagi Quraisy dan berhala-berhala mereka.
            Oleh karena itu, mereka terus mendampinginya, menjamunya dengan segala kesenangan, kemewahan dan kenikmatan. Mereka menakut-nakutinya agar tidak berjumpa dengan Rasulullah saw. Mereka berkata, “Muhammad memiliki ucapan laksana sihir hingga dapat memisahkan seseorang dari ayahnya; dari saudaranya; dan dari suami atau istrinya. Sesungguhnya, kami mencemaskan dirimu dan janganlah mendengarkan ucapannya.”
            Marilah kita mendengarkan Thufail menceritakan sendiri kisahnya.
            “Demi Allah, mereka selalu mendampingiku, hingga aku sudah bertekad untuk tidak mendengar sesuatu dari Rasulullah dan tidak menemuinya. Ketika aku pergi ke Ka’bah, kututup telingaku dengan kapas agar jika beliau berkata, aku tidak mendengar perkataannya, di sana aku mendapatinya shalat di dekat Ka’bah. Aku berdiri di dekatnya. Lalu, Allah berkehendak memperdengarkan kepadaku apa yang sedang dibaca Rasulullah. Aku mendengarkan ucapan yang sangat indah. Aku berkata dalam hati, ‘Demi Tuhan, aku ini orang yang pandai dan seorang penyair. Aku bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Maka, apa salahnya jika aku mendengarkan perkataan laki-laki itu? Jika perkataannya baik, kuterima, dan jika buruk, kutinggalkan. Aku tetap di tempat itu hingga ia pulang ke rumahnya. Aku mengikutinya hingga ia masuk rumah. Aku juga ikut masuk dan berkata kepadanya, ‘Wahai Muhammad, kaummu telah bercerita kepadaku tentang dirimu begini dan begini. Demi Tuhan, mereka terus menakut-nakutiku tentang dirimu, hingga kututupi telingaku dengan kapas agar tidak mendengar perkataanmu.’ Maka Rasulullah menjelaskan Islam kepadaku dan membaca Al-Qur’an. Demi Allah, aku tidak pernah mendengar ucapan yang lebih baik dari itu, dan perkara yang lebih benar dari itu.
Lalu aku masuk Islam. Aku mengucapkan kalimat syahadat. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini seorang yang ditaati oleh kaumku, dan sekarang aku akan kembali kepada mereka, mengajak mereka kepada Islam. Maka, mohonan kepada Allah agar aku diberi tanda yang dapat membantuku dalam menyeru mereka.’ Maka, Rasulullah saw. berdoa, Ya Allah, berikan kepadanya suatu tanda.’”
Dalam Kitab suci-Nya, Allah telah memuji “orang-orang yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik.” Nah, sekarang kita bertemu dengan satu dari mereka. Dia merupakan gambaran tepat dari fitrah yang lurus.
            Baru saja telinganya mendengar beberapa ayat mengenai petunjuk dan kebaikan yang diturunkan Allah dan Rasul-Nya, semua pendengaran dan hatinya terbuka, lalu tangannya terbentang untuk menyatakan keislaman. Tidak berhenti di sana, ia langsung merasa bertanggung jawab untuk mengajak keluarga dan kaumnya kepada agama yang benar dan jalan yang lurus ini.
Karena itu, baru saja ia sampai di Daus (rumah dan kampung halamannya), ia memaparkan kepada ayahnya apa yang sekarang menjadi keyakinannya. Ia juga bercerita tentang Rasulullah yang mengajak ke jalan Allah, bagaimana keagungan, kesucian, kejujuran, keikhlasan, dan ketaatannya kepada Allah, Tuhan alam semesta. Setelah itu, ia mengajak ayahnya untuk masuk Islam.
Saat itu juga, sang ayah masuk Islam. Kemudian ia memaparkan kepada ibunya. Ia pun masuk Islam. Lalu kapada istrinya. Ia juga masuk Islam.
Setelah merasa puas karena seisi rumahnya telah masuk Islam, ia beralih mengajak kerabat dan kaumnya untuk masuk Islam. Ternyata, tidak seorang pun dari mereka yang masuk Islam, kecuali Abu Hurairah.
            Kaumnya menghinanya dan menjauh darinya. Akhirnya, ia tidak sabar lagi menghadapi mereka. Ia mengendarai kudanya, menempuh perjalanan jauh pergi ke tempat Rasulullah untuk mengadukan permasalahannya, sekaligus meminta bekal dari ajarannya.
Setibanya di Mekah, ia bergegas ke rumah Rasul, dibimbing oleh kerinduan yang mendalam. Ia berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, aku tidak mampu menghadapi perzinahan dan riba yang merajalela di desa Daus. Maka, mohonkanlah kepada Allah agar ia menghancurkan Daus.”
Thufail sangat terkejut ketika dilihatnya Rasulullah menengadahkan kedua tangannya ke langit dan berdoa, “Ya Allah, tunjukilah orang-orang  Daus, dan datang-kanlah mereka ke sini sebagai orang-orang Islam.” Beliau menoleh kepada Thufail dan berkata, “Kembalilah kepada kaummu. Ajaklah mereka dan bersikap lembutlah kepada mereka.”
Peristiwa ini benar-benar mempesona Thufail. Jiwanya penuh kedamaian. Ia tidak habis-habisan memuji Allah yang telah menjadikan Rasulullah yang penyayang ini menjadi guru dan pembimbingnya, dan yang telah menjadikan Islam sebagai agamadan tempat berlindungnya.
Dengan semangat ia kembali kepada kaumnya. Di sana, ia terus mengajak mereka kepada Islam dengan penuh kehati-hatian dan lemah lembut, seperti pesan Rasulullah saw.
Selama masa yang dilaluinya di tengah-tengah kaumnya, di sisi lain Rasulullah telah hijrah ke Madinah, telah melewati Perang Badar, Uhud, dan Khandaq.
Ketika Rasulullah sedang berada di Khaibar, usai membebaskan daerah itu dari tangan orang-orang Yahudi, ada rombongan besar yang terdiri dari delapan puluh keluarga Daus datang menghadap Rasulullah sambil membaca tahlil dan takbir. Mereka duduk di hadapannya berjanji setia (berbaiat) kepada Rasulullah secara bergantian.
Setelah kejadian demi kejadian itu, Thufail bin Amru duduk sendiri merenung, mengingat masa lalunya, merenungkan jalan yang dilaluinya.
Ia teringat saat datang kepada Rasululullah, memohon agar beliau berdoa kepada Allah untuk kehancuran penduduk Daus, namun beliau berdoa dengan doa lain yang membuatnya terpesona. Beliau berdoa, “Ya Allah, tunjukilah penduduk Daus, dan bawahlah mereka ke sini sebagai orang-orang Islam.”
Allah benar-benar telah memberi hidayah kepada penduduk Daus. Mereka datang sebagai orang-orang Islam.
Inilah mereka, 80 keluarga mewakili mayoritas penduduk Daus. Sekarang, mereka sudah bergabung dalam barisan suci di belakang Rasulullah yang tepercaya.
Thufail melanjutkan perjalanan hidupnya bersama kaum muslimin yang lain.
Pada peristiwa pembebasan kota Mekah, ia ikut memasuki kota  Mekah bersama 10 ribu kaum muslimin yang lain, tanpa merasa sombong dan besar kepala, tetapi sebaliknya, menundukkan kepala dengan khusyu’ dan rasa hormatsebagai ucapan syukur kepada Allah yang telah memberikan pembebasan kota Mekah dan kemenangan besar.
Thufail melihat Rasulullah sedang menghancurkan berhala-berhala di Ka’bah. Dengan tangannya sendiri, beliau membersihkan kotoran yang telah berakar itu.
Thufail teringat sebuah patung milik Amru bin Humamah. Dulu, setiap kali ia berkunjung ke Mekah, Amru selalu mengajaknya duduk khusyu’ menyembah patung itu. Sekaranglah saatnya bagi Thufail untuk membersihkan dosa-dosa masa lalunya. Ia mendekati Rasulullah, meminta izin kepada beliau untuk membakar patung milik Amru bin Humamah, yang biasa disebut “Dzul Kaffain” (yang memiliki dua telapak tangan).
Rasulullah mengizinkan. Thufail mulai membakarnya. Setiap kali api itu mengecil, ia menambahnya lagi sambil bersenandung,
“Wahai Dzul Kaffain,
Aku bukan penyembahmu
Kamu lahir setelahku
Kini kusiramkan api di perutmu”
Ia melanjutkan perjalanan hidupnya bersama Rasulullah. Shalat di belakang beliau, belajar darinya dan berperang bersamanya
Ketika Rasulullah wafat, Thufail melihat bahwa tanggung jawabnya sebagai muslim tidak berhenti dengan wafatnya beliau, bahkan bisa dikatakan baru dimulai.
Ketika pertempuran melawan orang-orang  murtad berkobar, Thufail menyisngsingkan lengan bajunya, terjun mengalami pahit getirnya hal itu dengan semangat baja, mengharapkan syahid. Pertempuran demi pertempuran dalam perang melawan orang-orang murtad, terus ia ikuti.
Pada pertempuran Yamamah, ia berangkat bersama kaum muslimin dengan menyertakan putranya, Amru bin Thufail. Sejak awal pertempuran, ia telah berpesan kepada putranya agar berperang dengan gagah berani mengharapkan kesyahidan dalam menghadapi tentara Musailamah al-Kadzdzab. Ia juga memberitahu putranya bahwa ia merasa akan gugur di pertempuran ini.
Ia hunuskan pedangnya, lalu berperang dengan gagah berani. Ia sama sekali tidak menggunakan pedangnya untuk melindungi nyawanya. Tetapi ia menjadikan nyawanya untuk melindungi pedangnya, sehingga jika ia gugur kelak, pedagnya tetap utuh dan bisa dipergunakan oleh rekan-rekannya.
Dalam pertempuran itu, Thufail ad-Dausi gugur sebagai syahid. Ia roboh oleh sabetan pedan. Ia sempat melambai kepada anaknya yang samar-samar dilihatnya, seakan mengajaknya turut serta.
Dan ternyata, sang putra benar-benar mengikuti jejak langkahnya. Tetapi, di pertarungan yang lain. Tepatnya di Perang Yarmuk, di Syam. Amru bin Thufail ikut dalam rombongan pasukan. Di sana ia gugur sebagai syahid. Saat mengembuskan napasnya yang terakhir, ia menjulurkan tangan kanannya dan membuka telapak tangannya, sekan sedang berjabat tangan.
Siapa yang tahu?!
Bisa jadi, saat itu, ia sedang berjabat tangan dengan ruh ayahnya.

Posted By Didit Puji Hariyanto22.32

Salim Maula Abu Hudzaifah

Filled under:

“Ahli Al-Qur’an Terbaik”
Pada suatu hari, Rasulullah SAW berpesan kepada para sahabatnya, “Ambillah Al-Qur’an dari empat orang: Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula Abu Hudzaifah, Ubai bin Ka’b, dan Muadz bin Jabal.”
            Kita sudah berkenalan dengan Abdullah bin Mas’ud, Ubai dan Muadz. Lantas, siapakah kiranya sahabat yang keempat yang dijadikan Rasulullah sebagai rujukan dalam mengajarkan Al-Qur’an?
            Dia adalah Salim Maula (budak yang dibebaskan oleh) Abu Hudzaifah. Dahulu, dia adalah seorang budak belian, lalu Islam mengangkat martabatnya, hingga ia dijadikan anak angkat oleh seorang tokoh Islam terkemuka, yang sebelum masuk Islam juga seorang bangsawan dan pmuka Quraisy.
            Setelah Islam menghapus tradisi anak angkat yang berlaku saat itu, ia menjadi saudara dan teman bagi orang yang memerdekakannya, yaitu sahabat mulai Abu Hudzaifah bin Utbah.
            Berkat karunia dan nikmat dari Allah ta’ala, ruhiyah, perilaku, dan ketakwaan Salim mencapai puncak, hingga ia disegani dan dihormati oleh rekan-rekannya sesama muslim.
            Sahabat Rasul yang mulia ini biasa dipanggil “Salim Maula Abu Hudzaifah” karena dulu ia seorang budak belian kemudian dimemerdekakan.
            Ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya di masa-masa awal, hingga berada dalam jajaran as-Sabiqun al-Awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam).
            Hudzaifah bin Utbah sendiri juga telah masuk Islam di masa-masa awal. Ia tidak peduli dengan ayahnya (Utbah bin Rabi’ah) yang sedang marah dan kecewa karena putranya (Hudzaifah) telah masuk Islam. Padahal, Hudzaifah memiliki wibawa di kalangan orang-orang Quraisy dan dipersiapkan untuk menjadi pemimpin Quraisy.
            Setelah memerdekakan Salim, Abu Hudzaifah mengangkatnya sebagai anak. Karena itu, Salim dikenal sebagai Salim putra Abu Hudzaifah.
            Setelah itu, dua orang ini beribadah kepada Allah dengan patuh dan khusyu’. Semua siksaan dan tipu daya Quraisy, mereka hadapi dengan penuh kesabaran.
            Pada suatu hari, turunlah ayat yang membatalkan tradisi anak angkat yang berlaku saat itu. Setiap anak angkat harus disebut sesuai nama ayah kandungnya, bukan ayah angkatnya.
            Zaid yang saat itu anak angkat Nabi saw. dan dikenal di kalangan kaum muslimin sebagai Zaid bin Muhammad saw., kembali menyandang bin Haritsah. Tetapi, Salim tidak diketahui ayahnya sehingga ia dihubungkan dengan orang yang telah memerdekakannya, maka ia dipanggil Salim Maula Abu Hudzaifah.
            Bisa jadi, ketika Islam menghapus tradisi anak angkat, Islam ingin menegaskan kepada kaum muslimin, “Janganlah kalian mencari hubungan kekeluargaan dan silaturahmi untuk memperkuat persaudaraan kalian lebih besar dan lebih kuat dari Islam itu sendiri dan akidah yang menjadikan kalian bersaudara.”
            Hal ini telah dipahami dengan baik oleh kaum muslimin angkatan pertama. Setelah Allah dan Rasul-Nya tidak ada yang lebih mereka cintai selain saudara seakidah. Kita telah melihat bagaimana orang-orang Anshar menyambut saudara-saudara mereka, kaum Muhajirin. Mereka membagi dua harta dan tempat tinggal mereka, bahkan semua yang mereka miliki.
            Inilah yang terjadi antara Abu Hudzaifah, seorang bangsawan Quraisy terhadap Salim yang berasal dari budah belian yang tidak diketahui siapa ayahnya itu. Sampai akhir ayat mereka, hubungan kedua orang inilebih dari dua saudara kandung, hingga saat meninggal dunia, mereka mati bersama-sama: nyawa melayang bersama dan tubuh mereka terbaring berdampingan.
            Inilah kebesaran Islam yang tiada dua. Bahkan, itu baru satu dari sekian banyak kebesaran dan keistimewaan  Islam.
            Keimanan Salim sudah mencapai puncaknya. Ia telah menempuh jalan menuju Allah dengan keshalihan dan ketakwaannya. Dengan begitu, silsilah keturunan dan kedudukan di masyarakat sudah tidak masalah lagi, karena ketakwaan dan keikhlasannya telah mengangkatnya ke kedudukan tertinggi di tengah-tengah masyarakat yang baru dibangun oleh Islam dengan fondasi baru yang adil dan mulia.
            Fondasi itu terangkum dalam firman Allah berikut.
            “Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (al-Hujurat: 13)
            Juga terangkum dalam hadits berikut.
            “Tidak ada keutamaan bagi seorang Arab terhadap orang lain, selain orang Arab, kecuali karena ketakwaannya, dan tidak ada keutamaan bagi seorang kulit putih terhadap seorang kulit hitam kecuali karena ketakwaannya.”
Di masyarakat baru yang bersih ini, Abu Hudzaifah mendapatkan kemuliaan jika menjadi wali bagi seseorang yang dulunya menjadi budak belian. Bahkan, keluarganya juga mendapatkan kemuliaan jika menikahkan Salim dengan keponakannya yang bernama Fatimah binti Walid bin Utbah.
            Di tengah-tengah masyarakat baru dan bersih yang menghancurkan system kasta yang aniaya dan diskriminasi yang tidak adil, Salim selalu berada di barisan terdepan disebabkan kejujuran, keimanan, dan jasa baiknya.
            Benar, dialah yang menjadi imam shalat jamaah bagi kaum Muhajirin selama mereka shalat I masjid Quba’.
            Ia menjadi rujukan bagi mereka yang ingin mempelajari Al-Qur’an, hingga Rasulullah menyuruh kaum muslimin belajar darinya. Ia juga memiliki banyak kebaikan dan kelebihan hingga Rasulullah pernah bersabda kepadanya, “Segala puji bagi Allah yang menjadikan dalam umatku, orang sepertimu.” Bahkan rekan-rekannya saat itu menyebutnya Salim “orang shalih”.
Riwayat hidup Salim seperti riwayat hidup Bilal dan puluhan budak belian serta fakir miskin yang dibebaskan oleh Islam dari belenggu perbudakan dan kelemahan, lalu Islam menjadikan mereka dalam masyarakat madani sebagai para pemimpin.
            Salim menghimpun seluruh keutamaan yang diajarkan oleh Islam. Bahkan bisa dikatakan, semua keutamaan itu berdesakan memenuhi dirinya dan sekitarnya. Dan keimanannya yang sungguh-sungguh menatanya dengan baik.
            Di antara kelebihannya yang paling menonjol ialah menyatakan secara terang-terangan apa yang dianggapnya benar. Dia tidak mau diam jika menurutnya ia harus bicara. Dia tidak mau mengkhianati kehidupan dengan berdiam diri terhadap suatu kesalahan yang dapat mengubur kehidupan itu.
            Setelah pembebasan kota Mekah, Rasulullah mengirimkan beberapa pasukan kecil ke kampung-kampung dan suku-suku Arab sekeliling Mekah, dan menyampaikan kepada penduduknya bahwa Rasulullah saw. mengirim mereka untuk berdakwah dan bukan untuk berperang.
            Khalid bin Walid terpilih sebagai kepala salah satu pasukan. Ketika Khalid sampai di tempat yang dituju, terjadilah suatu peristiwa ang menyebabkannya terpaksa menggunakan senjata dan membunuh. Ketika kejadian ini sampai kepada Nabi saw., beliau tidak henti-hentinya memohon ampun kepada Allah. Beliau berucap, “Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari perbuatan yang dilakukan Khalid.”
            Bahkan, kejadian itu selalu diingat oleh Umar dan berpengaruh pada sikapnya terhadap Khalid. Ia berkata, “Sesungguhnya, pedang Khalid terlalu tergesa-gesa.”
            Dalam pasukan kecil yang dipimpin oleh Khalid itu, terdapat Salim Maula Abu Hudzaifah dan para sahabat lainnya. Ketika melihat perbuatan Khalid, Salim menegurnya habis-habisan dan menjelaskan kesalahannya.
            Sementara Khalid sang komandan yang juga pahlawan besar di masa jahiliah dan setelah Islam, terkadang diam mendengarkan, terkadang melakukan pembelaan, dan terkadang berbicara dengan suara lantang. Namun, Salim tetap berpegang pada pendiriannya dan mengemukakannya tanpa takut atau basa-basi.
            Saat itu, Salim tidak memandang Khalid sebagai bangsawan pemuka dan memandang dirinya sebagai budak belian. Tidak !!! Karena Islam telah menyamakan kedudukan mereka. Ia juga tidak memandangnya sebagai komandan yang bebas berbuat salah, tetapi sebagai rekan seperjuangan. Teguran yang ia tujukan kepada Khalid bukan karena maksud tertentu atau suatu ambisi, tetapi sebagai nasihat yang dijunjung tinggi oleh Islam, dan dijanjikan Nabi saw. sebagai sendi agama. Beliau pernah bersabda, “Agama itu nasihat. Agama itu nasihat. Agama itu nasihat.”
           
            Ketika Rasulullah saw. mendengar tindakan Khalid itu, beliau bertanya, “Adakah ang menentangnya?”
            Alangkah indah dan hebatnya pertanyaan ini. Kemarahan Rasulullah pun mereda saat para sahabat menjawab, “Ada. Salim Maula bin Abu Hudzaifah.”
            Salim menjalani hidupnya bersama Rasulullah dan kaum muslimin. Ia tidak pernah absen dari satu peperangan pun. Ia juga tidak pernah berhenti beribadah. Dan persaudaraannya dengan Abu Hudzaifah semakin hari semakin erat.
            Waktu pun terus berjalan.
            Setelah Rasulullah berpulang ke rahmatullah, Khalifah Abu Bakar menghadapi persekongkolan jahat dari orang-orang murtad. Lalu, tibalah saatnya pertempuran Yamamah, suatu pertempuran yang sangat dahsyat, yang belum pernah dialami kaum muslimin sebelumnya.
            Kaum muslimin berperang, tidak ketinggalan Salim dan saudara seakidahnya, Abu Hudzaifah. Di awal peperangan, kaum muslimin kewalahan, hingga setiap pejuang muslim merasa bahwa menang dalam peperangan ini adalah tanggung jawabnya.
            Khalid bin Walid mengumpulkan mereka lalu mengatur strategi baru yang hebat. Dua saudara, Abu Hudzaifah dan Salim, berpelukan dan saling berjanji siap syahid demi islam yang telah memberi mereka kebahagiaan dunia dan akhirat. Lalu keduanya menceburkan diri dalam kecamuk perang yang dahsyat itu.
            Abu Hudzaifah berseru, “Wahai Ahlul-Qur’an, hiasilah Al-Qur’an dengan tindakan kalian.” Sementara pedangnya menyabet ke sana kemari laksana topan memorak-porandakan pasukan Musailamah al-Kadzdzab.
            Salim pun berseru, “Seburuk-buruk Ahlul Qur’an adalah diriku, jika kaum muslimin mendapat serangan dari arahku.”
            Jangan berkata begitu, wahai Salim! Karena sebaik-baik Ahlul Qur’an adalah dirimu.
            Pedangnya bagai menari-nari, menebas kepala orang-orang murtad yang hendak mengembalikan jahiliah Quraisy dan memadamkan cahaya Islam.
            Tiba-tiba, sebuah pedang musuh menebas tangannya hingga putus. Saat itu, ia memegang panji kaum Muhajirin menggantikan Zaid bin Khaththab yang telah gugur mendahuluinya. Mengetahui tangan kanannya putus, ia segera meraih bendera dengan tangan kirinya dan terus mengibarkannya sambil membaca firman Allah.
            “Dan berapa banyak nabi yang berperang didampingi orang-orang bertakwa yang jumlahnya besar. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah. Mereka tidak lesu dan tidak menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.”(Ali Imran 146)
Alangkah mulianya semboyan ini. Inilah semboyan yang dipilih Salim saat ajal menjemputnya.
Sekelompok orang-orang murtad mengepung dan menyerangnya. Salim akhirnya roboh. Namun ruhnya belum mau meninggalkan tubuhnya yang suci, meskipun sampai perang usai dengan tewasnya Musailamah al-Kadzdzab dan kekalahan pasukannya. Perang usai dengan kemenangan kaum muslimin.
            Ketika kaum muslimin mencari-cari pasukan mereka yang gugur, mereka mendapati Salim sedang sekarat. Ia bertanya kepada mereka, “Bagaimana nasib Abu Hudzaifah?”
            Mereka menjawab, “Ia telah syahid.”
Ia berkata, “Baringkan aku di sampingnya.”
“Dia di sampingmu, wahai Salim. Ia gugur di tempat itu.”
Salim tersenyum. Dan itulah senyuman yang terakhir. Ia sudah tidak berkata-kata.
Ia dan rekannya telah mendapatkan cita-cita yang mereka dambakan selama ini.
Keduanya masuk Islam bersama.
Hidup bersama.
Dan syahid bersama.
Sungguh, satu perjalanan hidup dan nasib yang menakjubkan.
Salim telah pergi menghadap Allah. Kaum muslimin kehilangan seorang tokoh besar yang sangat dikagumi Umar. Sebelum meninggal dunia, Umar pernah berpesan, “Seandainya Salim masih hidup, pasti aku serahi urusan khilafah kepadanya, setelah kematianku.”

Posted By Didit Puji Hariyanto06.19