Shuhail Bin Amru

Filled under:

“Tawanan yang Dibebaskan, Menjadi Syahid dalam Membela Kebenaran”

Perang Badar berakhir dengan kemenangan di pihak kaum muslimin. Tidak sedikit tentara kafir yang menjadi tawanan kaum muslimin, termasuk Shuhail bin Amru.
                Umar bin Khattab mendekati Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, biarkan saya cabut dua gigi depan Shuhail bin Amru agar mulai hari ini ia tidak bisa lagi berorasi menghinamu.”
                Rasulullah saw. menjawab, “Jangan, wahai Umar. Aku tidak merusak tubuh seseorang, karena nanti Allah akan merusak tubuhku, meskipun aku seorang Nabi.” Kemudian, Rasulullah menarik Umar ke dekatnya, dan bersabda, “Wahai Umar, mudah-mudahan di kemudian hari sikap Shuhail membuatmu senang.”

Nubuat Rasulullah menjadi kenyataan. Shuhail bin Amru, sang orator suku Quraisy, beralih menjadi orator di antara orator-orator Islam. Ia yang semula seorang musyrik fanatic berat menjadi seorang mukmin taat yang kedua matanya tak pernah kering dan air mata tangis karena takut kepada Allah. Ia yang notabene termasuk pemuka Quraisy dan panglima pasukannya beralih menjadi seorang pejuang tangguh yang membela Islam; menjadi seorang prajurit yang berjanji terhadap dirinya akan tetap di jalan jihad sampai mati; dengan harapan Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah dilakukannya.
                Nah, siapakah dia yang semula musyrik berkepala batu, lalu menjadi seorang muslim bertakwa dan gugur menjadi syahid?
                Dialah Shuhail bin Amru. Satu dari para pemimpin Quraisy yang disegani. Ia pintar dan bijak. Pendapatnya selalu menjadi rujukan.
                Dialah yang diutus oleh kaum Quraisy untuk meyakinkan Nabi agar membatalkan rencananya memasuki Mekkah pada peristiwa Hudaibiyah.
                Di akhir tahun keenam Hijrah, Rasulullah saw. bersama kaum muslimin pergi ke Mekkah untuk berziarah ke Baitullah dan melakukan Umroh, sama sekali bukan untuk berperang. Karena itu, mereka tidak membawa perlengkapan perang.
                Orang-orang Quraisy mengetahui keberangkatan kaum muslimin ini. Maka, mereka berusaha menghalangi tujuan kaum muslimin.
                Suasana menjadi tegang dan hati kaum muslimin berdebar-debar. Rasulullah bersabda kepada kaum muslimin, “Jika hari ini orang-orang Quraisy mengajakku menyambung silaturahmi, pasti kupenuhi.”
                Orang-orang Quraisy mengirim utusan demi utusan kepada Nabi saw. Beliau memberitahu semua utusan itu bahwa kedatangannya bukan untuk berperang, tetapi untuk berziarah ke Baitullah dan mengagungkan kesuciannya.
                Dan setiap utusan itu kembali, orang-orang Quraisy mengirim lagi utusan yang lebih bijak dan lebih disegani, hingga sampailah giliran Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. Dialah yang dipandang paling cerdas dan memiliki argumentasi paling kuat. Ia dipandang mampu meyakinkan Rasulullah untuk pulang ke Madinah dan tidak melanjutkan perjalanan ke Mekkah.
                Tetapi. Tidak berapa lama, Urwah kembali kepada mereka dan berkata, “Wahai segenap orang Quraisy, aku sudah mengunjungi raja-raja Romawi, Persia, dan Yaman. Demi Tuhan, aku tidak pernah melihat seorang raja yang begitu diagungkan oleh kaumnya, seperti para pengikut Muhammad mengagungkan Muhammad. Aku melihat ia dikelilingi oleh kaum yang tidak akan membiarkannya ditimpa keburukan. Nah, pertimbangkan rencana kalian dengan baik.”
                Saat itulah orang-orang Quraisy menyadari kegagalan upaya mereka. Mereka memutuskan untuk menempuh jalan perundingan. Untuk melaksanakan tugas ini, mereka memilih orang yang ahli di bidang ini, yaitu Shuhail bin Amru.
                Melihat kedatangan Shuhail, kaum muslimin paham bahwa orang-orang Quraisy memilih jalan perundingan. Ini terbaca karena yang diutus adalah Shuhail.
                Shuhail duduk berhadapan dengan Rasulullah. Keduanya terlibat dalam percakapan panjang. Akhirnya disepakatilah jalan damai dan dibuat perjanjian.
                Shuhail ingin agar isi perjanjian ini benar-benar menguntungkan pihak Quraisy, apalagi sikap toleransi Rasulullah sangat mendukung hal ini.

                Waktu pun terus berjalan, hingga tibalah tahun ke-8 Hijriah, di mana Rasulullah dan kaum muslimin terlihat berangkat untuk membebaskan kota Mekkah setelah orang-orang Quraisy merusak isi perjanjian yang telah disepakati.
                Orang-orang Muhajirin pulang ke tanah kelahiran mereka, setelah mereka dulu diusir dari tempat itu. Mereka pulang kampung ditemani oleh orang-orang Anshar yang telah menampung mereka di Madinah, bahkan lebih mengutamakan mereka daripada diri mereka (Anshar) sendiri.
          Islam pun kembali seutuhnya, mengibarkan panji-panji kemenangannya di angkasa luas. Kota Mekkah telah membuka semua pintunya. Sementara orang-orang musyrik dalam kebingungan.
               Nah, coba bayangkan nasib mereka sekarang. Merekalah yang selama ini menimpakan keburukan kepada kaum muslimin : membunuh, membakar, menyiksa, dan menutup perekonomian kaum muslimin. Semua kejahatan itu telah mereka lakukan terhadap kaum muslimin.
                Rasulullah yang penyayang tidak ingin membiarkan mereka tersiksa oleh perasaan mereka sendiri. Dengan dada lapang dan sikap lembut, beliau pandangi wajah mereka. Dengan suara yang penuh kasih sayang, beliau bersabda, “Wahai segenap kaum Qurasiy, menrut kalian, apa yang akan kulakukan terhadap kalian?”
                Saat itulah, Shuhail bin Amru menjawab, “Kami yakin kau akan melakukan yang terbaik. Engkau adalah saudara kami yang mmulia, dan putra saudara kami yang mulia.”
                Sebuah senyuman berkilau tersungging di kedua bibir Rasulullah, sang kekasih Allah. Beliau bersabda, “Pergilah! Kalian seua bebas.”
                Bagi mereka yang mempunyai perasaan, ucapan Rasulullah yang saat itu berada di atas angin ini pasti menimbulkan rasa malu dan menyesal.
                Malu dan menyesallah yang saat itu dirasakan oleh Shuhail bin Amru. Suasana yang begitu mengharukan telah menggoyahkan hatinya. Ia menyatakan keislamannya. Ia tunduk kepada Allah, Sang Pencipta alam semesta.
                Keislamannya itu bukanlah keislaman seorang laki-laki yang kalah dan putus asa. Akan tetapi, seperti yang akan dibuktikan di kemudian hari, keislamannya adalah keislaman seorang laki-laki yang terpesona oleh keagungan Muhammad dan keagungan Islam yang dibawa dan diperjuangkan Muhammad mati-matian.
               
                Orang-orang yang masuk Islam di hari pembebasan kota Mekkah itu disebut thulaqa’. Yaitu, orang-orang  yang masuk Islam karena mendapat ampunan Rasulullah saat beliau bersabda, “Pergilah! Kalian semua bebas (thulaqa’).”
                Lalu, dari mereka ini, ada yang melaju cepat dengan keikhlasan mereka. Mereka terbang tinggi dengan pengorbanan, ibadah dan kesucian mereka. Sehingga, mereka menempati barisan terdepan dalam jajaran para sahabat, termasuk Shuhail bin Amru.
                Ia telah “didaur ulang” oleh Islam. Semua kemampuannya kemarin dipertajam dan ditambah dengan kemampuan lain. Semua kemampuan itu dipergunakan untuk membela kebenaran, kebaikan, dan keimanan.
                Orang-orang menyebutnya, “Pemaaf, pemurah, banyak sholat, puasa, bersedekah, membaca Al-Qur’an, dan menangis karena takut kepada Allah.”
                Di sinilah letak kebesaran Shuhail. Meskipun ia masuk Islam baru di hari pembebasan kota Mekkah, keislaman dan keimanannya tidak main-main, bahkan menguasai keseluruhan dirinya dan mengantarnya menjadi seorang ahli ibadah, zuhud, dan mujahid yang siap berkorban apa saja untuk membela Islam.
                Ketika Rasulullah wafat, Shuhail tinggal di kota Mekkah. Saat berita itu sampai di Mekkah, kaum muslimin Mekkah gelisah seperti yang dialami oleh kaum muslimin Madinah.
                Jika kegelisahan kaum muslimin Madinah diobati oleh Abu Bakar dengan kata-katanya, “Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah tetap hidup dan tidak akan mati.”
                Kita akan keheranan ketika mengetahui bahwa Shuhail –lah yang tampil di Mekkah, melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di Madinah.
                Ia mengumpulkan segenap kaum muslimin Mekkah, lalu berdiri memukau mereka dengan orasinya yang mantap. Ia jelaskan bahwa Muhammad itu benar-benar utusan Allah dan bahwa ia tidak wafat kecuali setelah menyampaikan tugasnya dengan sempurna. Kini tinggal kaum musliminlah yang harus melanjutkan jalan hidup yang telah digariskannya.
                Tindakan dan orasi Shuhail yang didasari iman yang kuat ini berhasil meredam kekacauan yang hampir mencabut keimanan mereka saat mendengar wafatnya Rasulullah.
                Hari ini, nubuat Rasulullah terbukti. Bukankah beliau pernah berkata kepada Umar, ketika Umar meminta izin untuk merontokkan gigi Shuhail saat Shuhail menjadi tawanan Perang Badar, “Jangan! Mudah-mudahan di kemudian hari tindakannya membuatmu senang”?
                Nah, pada hari ini, nubuat itu terbukti.
                Ketika kaum muslimin di Madinah mendengar tindakan dan orasi Shuhail yang mengagumkan di Mekkah, yang mengembalikan keimanan kaum muslimin Mekkah, Umar bin Khattab teringat akan nubuat Rasulullah. Ia tertawa panjang. Hari ini, dua gigi depan Shuhail yang dulu ingin dicabutnya, membawa manfaat besar bagi Islam dan kaum muslimin.
                Setelah masuk Islam di hari pembebasan kota Mekkah dan setelah merasakan manisnya iman, ia berjanji terhadap dirinya, “Demi Allah, setiap tindakan yang pernah kulakukan bersama orang-orang musyrik, pasti akan kulakukan juga bersama kaum muslimin. Setiap dana yang kukeluarkan bersama kaum musyrikin, pasti kukeluarkan juga bersama kaum muslimin. Semoga semua itu menjadi penyeimbang perbuatanku terdahulu.”
                Dahulu, ia berlama-lama khusyu’ di depan berhala-berhalanya. Sekarang, bersama kaum muslimin, ia berlama-lama khusyu’ di hadapan Allah Yang Maha Esa. Waktunya banyak ia habiskan untuk sholat dan puasa. Setiap ibadah yang membersihkan jiwanya dan mendekatkan dirinya kepada Tuhannya yang Mahatinggi, pasti ia lakukan sebanyak banyaknya.
                Kemarin, bersama kaum musyrikin, ia memusuhi dan memerangi Islam. Sekarang, bersama pasukan Islam, ia menjadi pejuang gagah berani. Bersama pasukan kebenaran, ia padamkan api pemujaan Persia yang dipertahankan. Api pemujaan yang selama ini memupus masa depan penduduk Persia. Bersama pasukan kebenaran, ia memorak-porandakan kezaliman orang-orang Romawi. Ia sebarkan kalimat tauhid dan takwa di setiap tempat.
                Begitulah… Bersama pasukan Islam, ia berangkat ke Syam, untuk terjun dalam peperangan yang terjadi di sana. Termasuk Perang Yarmuk yang terkenal sangat sengit, dahsyat dan mencekam. Saat itu, Shuhail bagai terbang kegirangan. Ia merasa mendapatkan kesempatan untuk mendermakan dirinya, syahid di perang yang sangat sengit ini, agar dapat menebus dosa-dosa dan kesyirikan masa lalunya.

                Shuhail sangat mencintai kampung halamannya: Mekkah. Bahkan, melebihi dirinya sendiri. Meskipun kaum muslimin telah berhasil membebaskan Syam, ia tidak juga mau pulang ke Mekkah. Ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Keberadaan seseorang di antara kalian di medan perang membela agam Allah, meskipun hanya sebentar, lebih baik dari amal kebaikan sepanjang usianya.” Sungguh, aku ingin berperang di jalan Allah hingga syahid. Aku tidak akan pulang ke Mekkah.”
                Shuhail menepati janjinya. Sisa hidupnya ia habiskan di medan perang hingga ajal menjemputnya. Ruhnya terbang dengan cepat menuju kasih sayang dan keridhaan Allah.

0 komentar:

Posting Komentar