“Penghimpun
Al-Qur’an”
Jika
Anda membawa Al-Qur’an dengan tangan kanan, lalu menelusurinya dengan teliti –
surah demi surah, ayat demi ayat – maka ketahuilah bahwa orang yang telah
berjasa besar dan patut Anda beri ucapan terimakasih atas karya besar ini
adalah seorang tokoh besar bernama Zaid bin Tsabit.
Peristiwa-peristiwa
pengumpulan Al-Qur’an sampai menjadi satu mushaf (buku), tidak terpisahkan dari
nama besar ini.
Seandainya
diadakan tabor bunga untuk mengenang mereka yang berjasa dalam penghimpunan dan
pengurutan Al-Qur’an, maka Zaid bin Tsabit akan mendapat jatah bunga terbanyak.
Ia termasuk kaum
Anshar. Sewaktu Rasulullah saw. menginjakkan kaki di Madinah, usianya baru 11
tahun. Anak kecil ini masuk Islam bersama keluarganya dan pernah didoakan oleh
Rasulullah. Satu keutamaan tersendiri.
Ia dibawa oleh
orang tuanya berangkat ke Perang Badar, namun Rasulullah dengan mengiba agar
beliau mengizinkan mereka ikut perang. Bahkan, keluarga mereka juga turut
mengiba kepada Rasulullah agar mereka diperkenankan ikut perang.
Rasul
melayangkan pandangannya ke para penunggang kuda ini. Ada rasa bangga tersirat
di wajah beliau. Namun tampaknya, kali ini beliau juga tidak akan mengizinkan
mereka bergabung dalam pasukan perang.
Akan tetapi, Rafi’
bin Khadij, satu dari mereka, tampil ke hadapan Nabi dengan membawa tombak. Ia
memainkan tombaknya dengan sengat lihai. Setelah itu, ia berkata kepada
Rasulullah, “Seperti yang Rasul lihat, aku jago melempar tombak. Karena itu,
izinkan aku ikut perang.”
Rasulullah
tersenyum puas kepada jagoan muda ini. Beliau mengizinkannya ikut perang.
Semangat
rekan-rekannya pun bangkit. Sekarang giliran Samurah bin Jundub tampil ke
depan. Dengan penuh sopan ia memperlihatkan kedua lengannya yang kuat dan
kekar. Keluarganya berkata, “Ya Rasul, Samurah mampu mengalahkan Rafi’ dalam
adu gulat.”
Rasulullah
tersenyum puas, lalu memberinya izin berperang.
Rafi’ dan
Samurah saat itusudah berusia 15 tahun. Di samping itu, tubuh keduanya juga
besar.
Masih tersisa 6
anak lagi, termasuk Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar. Segala upaya mereka
lakukan agar diikutsertakan dalam Perang Uhud. Terkadang dengan berharap dan
mengiba, dan terkadang dengan menunjukkan kepandaian mereka. Namun, usia dan
tubuh mereka masih terlalu kecil. Rasulullah berjanji untuk mengikutkan mereka
di perang selanjutnya.
Demikianlah,
Zaid bin Tsabit dan rekan-rekannya mulai ikut bertempur di perang Khandaq,
tahun 5 H.
Keimanan Zaid
tumbuh dengan cepat dan menakjubkan. Dia tidak hanya menonjol di medan perang,
tetapi juga sebagai ilmuwan dengan berbagai keistimewaan. Ia hafal Al-Qur’an.
Ia menulis wahyu yang turun kepada Nabi. Ia unggul di bidang ilmu dan hikmah.
Tatkala, Rasulullah mulai melakukan ekspansi dakwah ke luar Madinah dan
mengirim surat ajakan masuk Islam kepada para raja, beliau menyuruh Zaid
belajar bahasa mereka. Dan hanya dalam waktu yang singkat, Zaid sudah bisa
menguasai bahasa mereka.
Sosok Zaid bin
Tsabit terus bersinar. Dihormati dan dimuliakan.
Sa’bi berkata,
“Pada suatu hari, Zaid hendak pergi berkendaraan, maka Ibnu Abbas memegangkan
talikendali kudanya. Zaid berkata, “Tidak usah, wahai sepupu Rasulullah.” Ibnu
Abbas menjawab, “Seperti inilah yang kami lakukan terhadap ulama kami.””
Qabishah
berkata, “Di Madinah, Zaid menjadi ketua dewan peradilan, ketua dewan fatwa,
ketua tim pembaca Al-Qur’an, dan ketua tim pembagi harta warisan.”
Tsabit bin Ubaid
berkata, “Aku belum pernah mengenal orang seperti Zaid. Di rumahnya, ia suka
bercanda dan di majelis taklimnya ia sangat dihormati.”
Ibnu Abbas
berkata, “Para sahabat terkemuka sudah mengetahui kalau keilmuan Zaid bin
Tsabit sangat menonjol.”
Puji-pujian di
atas semakin menambah deretan panjang keistimewaan yang dimiliki Zaid, karena
sebelum itu semua, ia menyimpan kemuliaan tersendiri. Ia mengemban tugas paling
penting dan paling mulia dalam sejarah Islam, yaitu menghimpun Al-Qur’an.
Sejak wahyu
mulai turun kepada Rasulullah, sebagai tanda pengangkatan beliau sebagai
pemberi peringatan, yang dimulai dengan ayat-ayat mempesona ini, yaitu Q.S.
Al-Alaq ayat 1-5.
Lalu wahyu terus
menyertai Rasulullah setiap kali beliau memohon petunjuk dan bimbingan.
Selama masa
kerasulan itu, Rasulullah menghadapi peperangan demi peperangan; menghalau
setiap tipu daya musuh; dalam proses membangun masyarakat baru dengan penuh
kesungguhan. Selama itu, wahyu terus turun, dan Rasulullah membacakan kepada
para pengikutnya. Di sinilah ada sekelompok orang mulia yang mencurahkan
perhatiannya kepada Al-Qur’an sejak hari pertama. Ada yang menghafalnya dan ada
yang menulisnya untuk memelihara Al-Qur’an.
Selama kurang
lebih 21 tahun, Al-Qur’an turun ayat demi ayat sesuai kebutuhan dan situasi
yang dihadapi. Para penghafal dan penulis Al-Qur’an itu mencurahkan segenap
perhatiannya.
Al-Qur’an tidak
turun sekaligus, karena Al-Qur’an bukan buku atau artikel. Akan tetapi,
Al-Qur’an adalah pedoman bagi umat baru yang dibangun secara alami ----
sejengkal demi sejengkal ---- dari waktu ke waktu. Membangun akidah,
membersihkan hati, mengembangkan pola fikir, dan menguatkan tekad sesuai
kehendak Allah. Mereka menerima kehendak ini sepenuh hati tanpa mencari-cari
alasan.
Karena itulah,
Al-Qur’an turun secara berkala dan sebagian-sebagian untuk mengikuti perjalanan
hidup, situasi yang berubah-ubah, dan permasalahan yang ada.
Sebagaimana yang
telah kami sebutkan, jumlah mereka yang menghafal dan menulis Al-Qur’an cukup
banyak. Di antara yang terkemuka adalah Ali bin Abu Thalib, Ubai bin Ka’ab,
Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, dan seorang tokoh mulia yang sedang
kita bicarakan sekarang, yaitu Zaid bin Tsabit ---- semoga Allah ridha kepada
mereka semua.
Sesudah
Al-Qur’an turun dengan sempurna, di masa-masa terakhir, Rasulullah
membacakannya kepada kaum muslimin secara tersusun surat demi surat, ayat demi
ayat.
Setelah
Rasulullah wafat, kaum muslimin disibukkan dengan Perang Riddah.
Di Perang
Yamamah, seperti yang sudah kita bicarakan saat berkisah tentang Khalid bin
Walid dan Zaid bin Khattab, banyak penghafal Al-Qur’an yang gugur sebagai
syahid. Oleh sebab itu, Umar segera menghadap Khalifah Abu Bakar mengusulkan
penghimpunan Al-Qur’an sebelum semua penghafal Al-Qur’an gugur dalam
peperangan.
Khalifah meminta
bimbingan Allah. Juga meminta pendapat para tokoh kaum muslimin. Kemudian, ia
memanggil Zaid bin Tsabit dan berkata kepadanya, “Kamu masih muda dan cerdas.
Kami tidak berburuk sangka kepadamu.” Lalu, Zaid diperintahkan untuk menghimpun
Al-Qur’an dengan meminta bantuan para penghafal lainnya.
Zaid mulai
melakukan tugas yang menentukan masa depan Islam. Segala upaya dan pengorbanan
ia curahkan untuk menyelesaikan tugas paling agung dan berat ini. Ia himpun
ayat demi ayat, surah demi surah, dari para penghafal Al-Qur’an dan dari
lembaran-lembaran yang ada dengan sangat teliti hingga Al-Qur’an terhimpun
semuanya dan tersusun rapi.
Hasil kerjanya
mendapat persetujuan dari para sahabat yang telah mendengarkan Al-Qur’an
langsung dari Nabi semasa hidupnya, terutama para penghafal dan penulis
Al-Qur’an.
Zaid pernah
melukiskan kesulitan menjalankan tugas mulia dan agung ini, “Demi Allah,
seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, itu lebih
mudah bagiku daripada menghimpun Al-Qur’an.”
Ia bisa bertahan
meski harus mnghadapi ujian, seberat apapun. Namun, ia tidak akan bisa bertahan
ketika melakukan kesalahan sekecil apa pun dalam melaksanakan tugas suci ini
---- meski tanpa disengaja.
Ia selalu
didampingi bimbingan Allah dan jaminan yang dijanjikan-Nya, “Sesungguhnya, Kami yang menurunkan
peringatan (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami akan memliharanya.” (al-Hijr
:9)
Maka, Zaid dapat
melaksanakan tugas penting ini dengan sebaik-baiknya.
Inilah tahapan
pertama pnghimpunan Al-Qur’an. Al-Qur’an
tersalin dalam beberapa mushaf. Antara mushaf yang satu dengan mushaf
yang lain ada sedikit perbedaan, meskipun tidak esensial. Seiring perjalanan
waktu, peristiwa yang terjadi di lapangan mengharuskan para sahabat menjadikan
Al-Qur’an hanya satu mushaf.
Pada masa
pemerintahan Khalifah Utsman, kaum muslimin terus melanjutkan ekspansi dakwahnya,
sehingga mereka semakin jauh dari kota Madinah. Di samping itu, gelombang
manusia yang masuk Islam ---- yang memiliki perbedaan bahasa dan dialek ----
juga semakin banyak. Saat itulah perbedaan mushaf menimbulkan perbedaan car
abaca terhadap Al-Qur’an, bahkan terjadi perbedaan cara baca antara para
sahabat generasi tua dengan kalangan muda. Karena itulah, sejumlah sahabat (yang
dipimpin Hudzaifah bin Yaman) menghadapi Khalifah Utsman mengusulkan pentingnya
penyatuan Al-Qur’an.
Khalifah meminta
petunjuk kepada Allah dan meminta pendapat para sahabat yang lain. Sebagaimana Khalifah
Abu Bakar dulu menugaskan Zaid bin Tsabit, sekarang, Khalifah Utsman juga
menugaskan Zaid.
Zaid
mengumpulkan rekan-rekannya. Mereka mengambil beberapa mushaf yang selama ini
sengaja disimpan di rumah Hafshah binti Umar. Bersama rekan-rekannya, Zaid
memulai tugas berat dan mulia ini. Mereka yang bersama Zaid melaksanakan tugas
ini adalah para penulis dan penghafal Al-Qur’an.
Hampir tidak ada
perbedaan pendapat di antara mereka. Kalaulah ada, mereka menjadikan pendapat
Zaid sebagai pedoman.
Sekarang, saat
kita membaca Al-Qur’an dengan mudah, atau sedang mendengarkan Al-Qur’an
dibacakan dengan benar, kita sama sekali tidak berpikir bahwa ada kesulitan
besar yang dihadapi oleh para penghimpun Al-Qur’an di masa lalu.
Sungguh,
kesulitan yang mereka hadapi sama persis dengan kesulitan di medan perang untuk
menegakkan kalimat Allah dan menghancurkan kegelapan dengan cahaya ilahi.

0 komentar:
Posting Komentar